Mandat Tripartit: Menjamin Kompetensi, Sertifikasi, dan Kesiapan dalam Pengiriman Global
- Rio Cahya Pangeran
- 25 Des 2025
- 4 menit membaca
Pengetahuan dan kesejahteraan awak kapal merupakan hal yang esensial bagi sektor maritim, yang menjadi landasan perdagangan internasional. Mandat Tripartit adalah sistem yang rumit dan diwajibkan secara hukum yang memastikan setiap kapal dikemudikan oleh awak yang berkualifikasi, berpengalaman, dan siap bertugas. Konvensi STCW, Kode ISM, dan MLC 2006 merupakan tiga pilar internasional fundamental yang menjadi dasar sistem ini.
Jaminan operasional awak kapal dicapai melalui penerapan sinergis ketiga instrumen ini:
Kompetensi dan Sertifikasi (Konvensi STCW): Standar global pertama dan minimal untuk jaga, sertifikasi, dan pelatihan dibuat pada tahun 1978 oleh Konvensi Global tentang Standar Pelatihan, Sertifikasi, dan Jaga untuk Awak Kapal (STCW). Konvensi ini menetapkan syarat-syarat esensial untuk kompetensi dan sertifikasi yang sah. Perubahan signifikan, seperti Amandemen Manila 2010, memperbarui standar tersebut, mewajibkan perwira dek untuk mahir menggunakan Sistem Tampilan Peta Elektronik dan Informasi (ECDIS).
Verifikasi Operasional (Kode ISM): Kode Manajemen Keselamatan Internasional (ISM) mewajibkan pemilik dan operator kapal untuk mengembangkan dan menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan (SMS) yang formal. Kode ISM berfokus pada keselamatan operasional, mitigasi risiko, dan pembentukan budaya keselamatan. Kode ini mengatur verifikasi operasional kompetensi, dengan tujuan eksplisit untuk meningkatkan kompetensi awak kapal melalui pendekatan terstruktur dalam manajemen keselamatan maritim. SMS berfungsi sebagai mekanisme integrasi definitif di mana kompetensi, sertifikasi, dan kesiapan bersatu di tingkat kapal.
Kesiapan dan Kesejahteraan (MLC, 2006): Konvensi Tenaga Kerja Maritim, 2006 (MLC, 2006), memastikan kesiapan unsur manusia dengan mengatur kondisi kerja dan kehidupan. Konvensi ini mengatur kesehatan fisik, kesesuaian medis, dan jam kerja. Secara kritis, MLC menetapkan batas waktu kerja dan istirahat yang eksplisit untuk mengurangi kelelahan, yang merupakan prasyarat operasional untuk memastikan mandat STCW tentang penjagaan yang aman terpenuhi. Misalnya, jam istirahat minimum tidak boleh kurang dari 10 jam dalam periode 24 jam atau 77 jam dalam periode tujuh hari.
Pelaksanaan mandat tripartit yang sukses menghadapi beberapa tantangan kritis, memaksa industri untuk melampaui sekadar “kepatuhan formal”.
Integritas Sertifikasi: Penyebaran global sertifikat kompetensi palsu (CoCs) merupakan ancaman eksistensial bagi keselamatan maritim. Negara Bendera dan perusahaan secara eksplisit diwajibkan untuk memverifikasi keaslian dan keabsahan sertifikat. Namun, penipuan terorganisir dapat berasal bahkan dari lembaga di yurisdiksi yang terdaftar dalam “Daftar Putih” STCW, sehingga memerlukan penggunaan sistem verifikasi digital terpusat secara wajib.
Mengurangi Kelelahan Tersembunyi: Ketidakpatuhan terhadap batas jam istirahat yang ketat dalam MLC secara langsung menyebabkan kelelahan, yang secara kritis mengganggu kemampuan awak kapal untuk menjalankan tugas dengan aman. Jika petugas mencatat jam istirahat secara tidak akurat karena tekanan operasional, kapal mungkin patuh secara administratif tetapi berbahaya secara operasional karena kelelahan tersembunyi. Masalah ini sering diperparah oleh kegagalan negara bendera dalam penegakan hukum, seperti yang diidentifikasi oleh Skema Audit Negara Anggota IMO (IMSAS).
Krisis Kesejahteraan Psiko-Sosial: Berlayar adalah profesi yang terisolasi, yang secara signifikan berkontribusi pada gangguan psiko-sosial. Tingkat insiden gangguan kesehatan mental yang tinggi, dengan beberapa survei melaporkan 25% pelaut menunjukkan skor yang mengindikasikan depresi, secara langsung berdampak pada keselamatan operasional yang terganggu. Meskipun STCW dan MLC sangat preskriptif mengenai kebugaran fisik, kerangka peraturan tersebut belum mewajibkan penilaian kebugaran psikologis untuk bertugas yang terstandarisasi.
Untuk memperkuat ekosistem jaminan, rekomendasi strategis berfokus pada teknologi dan kesejahteraan kru secara holistik:
Pemanfaatan Teknologi: Implementasi universal Sistem Manajemen Kompetensi (CMS) merupakan strategi mitigasi risiko yang tidak dapat dinegosiasikan. CMS adalah platform terpusat yang menangkap, memvalidasi, dan mengelola keterampilan, sertifikasi, dan catatan pelatihan, memberikan visibilitas real-time terhadap kesiapan tenaga kerja dan mengotomatisasi pemantauan kepatuhan terhadap standar STCW dan ISM.
Mengutamakan Kesiapan: Regulator harus mempertimbangkan integrasi penilaian kesiapan psikologis yang standar dan non-punitif ke dalam proses sertifikasi medis wajib. Selain itu, konektivitas digital wajib bagi awak kapal harus dianggap sebagai komponen operasional yang esensial, karena akses ke kontak keluarga merupakan faktor pelindung utama terhadap gangguan psikologis dan isolasi.
Untuk mencapai jaminan penuh bagi awak kapal, Negara Bendera, perusahaan, dan awak kapal itu sendiri harus melakukan upaya konsisten untuk beralih dari dokumentasi regulasi ke kenyataan yang layak, didukung secara operasional, dan terbukti mampu.
Melampaui Kepatuhan: Komitmen Scorpa Pranedya terhadap Keunggulan Kru
Di Scorpa Pranedya, filosofi kami melampaui manajemen kapal tradisional. Kami beroperasi sebagai mitra strategis dalam memastikan kinerja kapal, keselamatan kru, dan umur panjang aset. Sistem Manajemen Keselamatan (SMS) dan proses pengawasan digital kami memungkinkan pemantauan kepatuhan secara real-time, pelaporan transparan, dan optimasi operasional di seluruh armada. Dengan menggabungkan keahlian teknis dan kepemimpinan yang berorientasi pada manusia, kami memastikan bahwa setiap kapal di bawah manajemen kami tidak hanya memenuhi tetapi melampaui harapan regulasi internasional.
Kami menyadari bahwa awak kapal adalah motor utama kesuksesan maritim. Program Kompetensi dan Kesejahteraan Awak Scorpa Pranedya menyediakan pelatihan terstruktur, dukungan kesehatan mental, dan penilaian kesiapan yang didukung teknologi. Pendekatan kami dirancang untuk menciptakan profesional maritim yang tangguh, percaya diri, dan siap menghadapi masa depan. Karena menurut kami, awak kapal yang terlatih dengan baik dan didukung secara optimal adalah investasi paling berharga dalam pelayaran yang aman dan berkelanjutan.
Pelajari lebih lanjut bagaimana Scorpa Pranedya menetapkan standar baru dalam manajemen teknis kapal dan penjaminan awak kapal di www.scorpapranedya.co.id
Kontributor : Mayra Putri
Reviewer : Imam Buchari, David Ratner
Referensi
International Maritime Organization. (n.d.). International Convention on Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers (STCW). Retrieved November 3, 2025, from https://www.imo.org/en/About/Conventions/Pages/International-Convention-on-Standards-of-Training,-Certification-and-Watchkeeping-for-Seafarers-(STCW).aspx
SBN Tech. (2025, September 8). How is ISM Code implemented on ships? Retrieved November 3, 2025, from https://sbntech.com/how-is-ism-code-implemented-on-ships/
Marinepublic. (n.d.). Ship operations management: Command and crew safety. Retrieved November 3, 2025, https://www.marinepublic.com/blogs/training/175521-ship-operations-management-command-and-crew-safety
Ascertra. (2025, July 23). How competency management systems simplify offshore crew scheduling. Retrieved November 3, 2025, from https://www.ascertra.com/blog/https/www.ascertra.com/blog/how-competency-management-systems-simplify-offshore-crew-scheduling
The Tius. (2024, May 28). Seafarer retention and the challenges of keeping the best ashore and at sea. Retrieved November 3, 2025, from https://thetius.com/seafarer-retention-and-the-challenges-of-keeping-the-best-ashore-and-at-sea/
Global Maritime Forum. (2024, September 10). Improving seafarer well‑being: Preliminary findings from the Diversity@Sea. Retrieved November 3, 2025, from https://globalmaritimeforum.org/insight/improving-seafarer-well-being-preliminary-findings-from-the-diversity-sea/
Martide. (2025, October 5). Mental health and wellness for seafarers. Retrieved November 3, 2025, from https://www.martide.com/en/blog/mental-health-and-wellness-for-seafarers



UNICCM School mendorong siswa untuk terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Melalui pendekatan pembelajaran berpusat pada siswa, ruang diskusi dan partisipasi menjadi lebih terbuka. Dengan pendampingan yang tepat, siswa memahami materi secara bertahap. Akhirnya, suasana belajar terasa lebih nyaman.